PALEMBANG, BS.COM - Rangkaian kegiatan Festival Pantun Kelakar Betok Palembang kembali berlanjut dengan digelarnya workshop kedua pada Selasa, (3/2/2026), bertempat di Smartclass Universitas Bina Darma, Palembang.
Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian dan revitalisasi pantun sebagai warisan sastra lisan daerah Sumatera Selatan.
Workshop ini terselenggara atas dukungan Dana Abadi Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Pendayagunaan Ruang Publik Dana Indonesiana. Program tersebut bertujuan mendorong pemanfaatan ruang publik sebagai wahana edukasi, kreativitas, dan penguatan identitas budaya lokal.
Pada kesempatan tersebut, Dr, Ferry Kurniawan, MPd juga sekaligus mensosialisasikan puncak acara Festival Pantun Kelakar Betok Palembang, yang direncanakan pada Juni 2026 mendatang, berupa Lomba Pantun Kelakar Betok Palembang. Lomba ini diharapkan menjadi ruang aktualisasi kreativitas masyarakat lintas generasi sekaligus wadah regenerasi penutur pantun Palembang.
Workshop dua ini menghadirkan Hani Atus Solikhah, MPd sebagai narasumber utama dengan materi bertajuk “Menulis Pantun Ala Wong Kito”. Dalam pemaparannya, narasumber mengulas ciri khas pantun Palembang, mulai dari pola rima, pilihan diksi lokal, hingga unsur kelakar yang mencerminkan identitas dan kearifan masyarakat Palembang. Peserta juga diajak untuk mempraktikkan langsung penulisan pantun dengan pendekatan kreatif dan kontekstual.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan suasana dialogis antara narasumber dan peserta. Antusiasme terlihat dari keterlibatan aktif peserta dalam sesi tanya jawab maupun praktik menulis pantun.
Workshop ini diikuti berbagai kalangan, mulai dari siswa sekolah, mahasiswa, guru, dosen, hingga masyarakat umum. Adapun undangan yang hadir antara lain perwakilan dari SMK Negeri di Palembang, UIN Raden Fatah Palembang, Universitas Bina Darma, SMA Negeri 17 Palembang, SMK Muhammadiyah 3 Palembang, serta MA Pantra Mandiri.
Penyelenggara menyampaikan, kegiatan Festival Pantun Kelakar Betok Palembang tidak berhenti pada workshop ini saja. Ke depan, rangkaian kegiatan akan terus berlanjut dengan menghadirkan pembicara dan peserta yang berbeda, sehingga jangkauan literasi budaya dan sastra lisan dapat semakin luas.
Lewat kegiatan ini, Festival Pantun Kelakar Betok Palembang diharapkan mampu menjadi ruang edukasi, apresiasi, dan regenerasi sastra lisan daerah, sekaligus memperkuat peran pantun sebagai bagian penting dari identitas budaya Palembang di tengah perkembangan zaman. (Satria)



Posting Komentar
0Komentar